Sebuah judul prestisius yang di atas kertas, nyaris “anti-gagal”. Kita berbicara soal sebuah franchise raksasa yang baru saja melewatkan 10 tahun di layar lebar untuk membangun sebuah saga, dimana setiap serinya, berhasil mencatatkan angka penjualan tiket yang fantastis. Kita berbicara soal nama yang  bahkan mampu mengubah kultur superhero menjadi budaya mainsteam, alih-alih terkunci pada stigma “kutu buku”. Benar sekali, kita tengah bicara soal Marvel’s Avengers. Setelah hype besar mengitari konfirmasi versi video gamenya yang akan ditangani oleh Square Enix dan Crystal Dynamics, nama ini justru berujung “memble” dalam waktu singkat setelah rilis. Bagi Square Enix, ini adalah lubang finansial baru yang harus mereka tangani.

Dalam laporan finansial kuartal terbarunya, yang mengambil periode antara April – September 2020, Square Enix mencatatkan angka kerugian yang fantastis. Mereka mendaftarkan angka kerugian sekitar 6,5 Miliar Yen atau setara dengan USD 62 juta. Sumber kerugian ini dipercaya mengakar pada kegagalan Marvel’s Avengers untuk menarik minat pasar, sebuah game yang memang membutuhkan biaya besar untuk proses pengembangan dan marketing. Game Industry Analyst dari Tokyo – David Gibson menyebut bahwa hanya sekitar 60%  dari total volume Marvel’s Avengers yang diserap pasar, jauh dari harapan Square Enix.

Ini tentu saja pukulan telak bagi Square Enix setelah kuartal sebelumnya, mencatatkan keuntungan yang cukup besar berkat kesuksesan Final Fantasy VII Remake. Sementara di sisi lain, Crystal Dynamics sendiri masih belum berbagi detail pasti soal roadmap Marvel’s Avengers yang memang diposisikan sebagai Games as a Service, yang sejauh ini baru mendapatkan berita penundaan untuk konten lanjutan dan juga versi next-gen.

Bagaimana dengan Anda sendiri? Apakah Anda optimis Marvel’s Avengers akan bisa menemukan popularitasnya kembali di masa depan lewat update dan tambahan konten?