Sebelum terobsesi dengan perjalanan ke luar angkasa lewat SpaceX dan mobil listrik dengan Tesla, Elon Musk merupakan seorang anak yang gemar bermain video game.

Berbicara di konvensi video game Electronic Entertainment Expo (E3) di Los Angeles Juli 2020, Musk membahas dampak video game terhadap visinya dan karier sebagai insinyur teknologi.

“Salah satu alasannya saya tertarik pada teknologi adalah video game,” kata Elon Musk. “Saya mungkin tidak akan memulai programming jika bukan untuk video game atau tidak tertarik pada komputer dan teknologi jika bukan untuk video game.”

“Menurut saya video game adalah kekuatan yang sangat kuat untuk membuat anak-anak muda tertarik pada teknologi; video game memiliki efek yang jauh lebih besar daripada yang disadari orang.”

Elon Musk bercerita, pada usia 12 tahun, ia membuat code dan merilis game pertarungan luar angkasa bernama ‘Blastar’ yang kemudian dijual seharga US$500 ke perusahaan teknologi. Ia juga pernah bekerja di sebuah startup game.

Inspirasi dari game ini juga dibawa Elon Musk ketika mewawancarai calon karyawan untuk peran rekayasa software di Tesla dan SpaceX. Ia sering bertanya bagaimana mereka memulai programming.

“Saya pikir banyak insinyur perangkat lunak terbaik di dunia menghabiskan sebagian besar karir mereka di “rumah video game” ujar Elon Musk seperti dikutip dari CNBC International, Jumat (20/11/2020).

Menurutnya cara memecahkan masalah dalam video game bisa ditransfer ke pemecahan masalah dalam rekayasa software.

Bagi tim Elon Musk di Tesla, grafis yang disempurnakan dalam video game memungkinkan mereka untuk lebih baik dalam mensimulasikan mobil yang mengemudi sendiri (self driving) dengan bantuan kecerdasan buatan.

Dia menugaskan tim simulasinya untuk menciptakan dunia fotorealistik. Dia juga memuji video game Cyberpunk (serta film “Blade Runner”) sebagai inspirasi untuk truk pickup Tesla.